Make your own free website on Tripod.com

Perubahan Masyarakat Melalui Pemikiran Islam


 Pemikiran Islam telah mengubah Bangsa Arab dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran Islam juga telah melahirkan revolusi radikal di dalam kehidupan mereka secara keseluruhan. Sebelumnya mereka menyembah patung —dengan anggapan bahwa hal itu dapat mendekatkan diri kepada Allah— kemudian beralih pada penyembahan kepada Allah semata. Demikian pula sebelumnya, ikatan kesukuan (ar-rabitha al-qobiliyah) menjadi pengikat satu dengan yang lain. Kemudian ikatan itu berubah, yakni dengan menjadikan akidah Islam sebagai pengikat yang kokoh diantara mereka. Demikian juga sebelumnya, kepentingan pribadi dan suku menjadi tolak ukur di dalam kehidupan mereka. Kemudian tolak ukur itu berubah, yakni dengan menjadikan halal dan haram sebagai satu-satunya tolok ukur bagi mereka. Pemikiran Islam telah memberikan sifat kepada mereka dengan sifat-sifat akhlak yang terpuji, seperti jujur dalam bertutur, menyambung silaturahim dan berbuat baik kepada tetangga.



Catatan Sejarah Tentang Perubahan yang Dibawa Islam

Perubahan itu tampak jelas dalam sebuah diskusi yang terjadi antara umat Islam yang hijrah ke Habsyah dengan Najasy sewaktu orang-orang Quraisy mengutus Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amru bin al-‘Ash untuk memulangkan kembali (ekstradisi) umat Islam yang berhijrah.
Najasy berkata: “Apa sebenarnya agama ini, yang telah memecah-belah kaum kalian, sementara kalian juga tidak masukke dalam agamaku atau salah satu agama diantara ajaran agama yang ada?

Ja’far bin Abi Thalib yang menjadi jurbicara kaum muslimin berkata: “Wahai paduka, dahulu kami adalah suatu kaum yang diliputi kebodohan (jahiliyah) dengan menyembah patung, memakan bangkai, melakukan perzinaan, memutuskan silahturahmi, berlaku buruk pada tetangga, yang kuat memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu. Hingga Allah menghadirkan kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri yang kami kenal garis keturunan, kejujurannya, amanahnya, dan kesuciannya (‘iffah). Ia datang menyeru kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya. Lantas kami mencampakan apa yang dahulu dan leluhur kami sembah selain Allah berupa bebatuan dan berhala. Ia memerintahkan kepada kami untuk jujur dalam bertutur, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, menahan diri dari perkara yang diharamkan dan tidak saling menumpahkan darah. Ia pun melarang kami untuk melakukan kemesuman (al-fawahisy) dan perkataan keji (qawl az-zur), memakan harta anak yatim, serta menuduh berzina perempuan yang baik-baik. Diapun memerintahkan kami semata-mata untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menjalankan shalat, shaum, zakat —sebuah riwayat menyebutkan hingga mencapai bilangan perkara yang diperintahkan Islam. Lalu kami membenarkan dan mengimani beliau, serta mengikuti beliau apa yang dibawa dari Allah. Dengan begitu, kami hanya menyembah kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan bagi kami, dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami. Tetapi kaum kami malah memusuhi dan menyiksa kami, menimpakan cobaan (fitnah) kepada kami agar kami menjauhi agama kami agar mengalihkan kami kepada penyembahan terhadap berhala setelah kami menyembah Allah, dan agar kami kembali menghalalkan apa yang dulu pernah kami halalkan berupa barang-barang najis (al-khabaits). Tatkala mereka memaksa dan menzhalimi kami serta mempersempit ruang gerak kami, maka keluarlah kami menuju negeri paduka. Padukalah yang kami pilih diantara sekian banyak yang ada. Kami berharap agar dapat berada disekitar paduka dengan harapan agar kami tidak dizhalimi apabila berada disisi tuan wahai Paduka Raja.

Serta merta Najasy menyela: “Apakah anda membawa sesuatu yang datang dari Allah?

Ja’far menjawab: “Benar.”

Najasy melanjutkam: “Perdengarkan kepadaku!

Maka mulailah Ja’far membacakan surat Kaf ha ya ‘ayn shad (Qs. Maryam [19]). Demi Allah saat mereka mendengarkan Najasy pun menangis hingga (air mata) membasahi janggutnya disertai cucuran air mata para pendeta yang membasahi mushaf yang ada dipangkuan mereka.

Sesungguhnya perkara ini (Islam) dan apa yang dibawa oleh Isa as benar-benar keluar dari satu misykat (sumber cahaya) yang sama. Maka pergilah kalian berdua. Sekali-kali tidak, demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka (umat Islam) kepada kalian berdua, dan tidak akan membuat kalian terperdaya.” Demikian ucap Najasy kepada kedua orang utusan Quraisy.

Perubahan kondisi masyarakat itu juga tampak dalam diskusi yang berlangsung antara Heraclius, Raja Romawi, Dengan Abu Sofyan bin Harb, pemimpin Quraisy. Heraclius berkata: “Apa yang dia (Muhammad) perintahkan kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab: “Sembahlah Allah semata, dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun, tinggalkanlah apa yang diucapkan leluhur kalian. Beliau juga memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, berkata jujur, menjaga kehormatan (‘iffah), dan bersilahturahmi.
(lihat Shahih al-Bukhari dan Fathul Bari, juz I, hal. 26-31).


Beberapa Substansi Perubahan

Dalam waktu singkat bangsa Arab berubah menjadi umat yang padu dan solid. Keterpecahbelahan mereka dalam berbagai suku berganti menjadi sebuah kesatuan yang intergal dalam suatu kaidah, satu falsafah hidup dan prilaku. Keadaan ini juga mengantikan sekat-sekat berdasarkan ikatan darah dan kerabat dengan sebuah pengikat berupa ketundukan kepada Allah semata, sekaligus menghentikan peperangan dalam rangka membela hidup atau membela kemulian suku, dengan jihad fi sabilillah.

Pemikiran Islam telah membentuk orang-orang Arab dan selain Arab sehingga memiliki kepribadian-kepribadian Islam yang unik, siap mengorbankan nyawa dan apa saja yang dimilikinya dalam rangka mengemban risalah Islam keseluruh umat manusia. Contohnya adalah Mush’ab bin’Umair yang rela meninggalkan keluarga dan tanah airnya, serta kenikmatan kehidupan di kota Mekkah demi menyambut seruan Rasulullah Saw yang memanggilnya untuk pergi ke Madinah al-Munawarah. Akibatnya dia terbebani kehidupan yang sempit dan terasing di sana. Namun demikian, ia terus melakukan kontak (ittishal) dengan penduduknya hingga akhirnya ia berhasil mempersiapkan masyarakat Madinah untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang terus langgeng hingga 13 abad lamanya. Demikian juga Shuhaib al-Rumiy yang rela seluruh hartanya diambil orang-orang Quraisy sebagai ganti hijrahnya ke Madinah (Darul Hijrah). Berkenaan dengan dirinya turun firman Allah:

Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari masdhatillah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-nya. (Qs. al-Baqarah [2]: 207).

Islam telah mengubah bangsa Arab kedalam kehidupan baru yang teratur: sebuah kehidupan baru yang memiliki ciri khas dalam kehidupannya. Islam juga mengubah bangsa-bangsa yang telah masuk ke dalam naungan panji-panji Islam. Mereka mengalami kehidupan yang sama. Islam juga mewarnainya dengan corak Islam (shibghatul Islam). Akhirnya,
Persia dan Romawi meninggalkan ‘akidah-akidah’ mereka, dan memeluk akidah Islam. Mereka menyatu ke dalam pemikiran dan kebudayaan (tsaqafah) Islam, serta turut mengemban dakwah Islam. Mereka menjadi umat yang satu; satu kesatuan dalam pemikiran, perasaan dan sistem Islam. Tidak ada perbedaan antara orang Arab ataupun non-Arab (‘ajam); tidak ada keutamaan antara yang satu dengan lainnya, kecuali atas dasar ketaqwaannya.

Transformasi yang dihasilkan oleh Islam terhadap manusia yang mengemban dan mengadopsinya, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pemikiran Islam telah mengubah manusia dari penyembahan kepada selain Allah seperi patung dan api ke penyembahan kepada Allah semata.

2. Pemikiran Islam telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang dangkal menuju cara pandang yang mendalam lagi jernih (nazharah ‘amiqah mustanirah) yang merupakan cerminan akidah Islam, yaitu pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.

3. Pemikiran Islam telah mengubah ikatan-ikatan yang ada pada mereka , seperti ikatan kepentingan (al-mashlahiyyah), kesukuan (al-qabiliyyah), dan patriotisme (al-wathaniyyah) kepada ikatan ideologis (al-mabdaiyyah), sebagai sebuah ikatan yang langgeng lagi kokoh. Adapun ikatan-ikatan sebelumnya bersifat temporal dan lemah.

4. Pemikiran Islam telah mengubah tolok ukur aktivitas kehidupan mereka dari manfaat-egoisme ke tolok ukur halal haram. Apabila halal mereka akan mengerjakan dan mengamalkanya, sedangkan jika haram, mereka segera menjauhi dan membencinya.

5. Pemikiran Islam telah mengubah asas hubungan internasional. Sebelumnya, hubungan internasional dibangun di atas kepentingan materi, ketamakan dan kepongahan, kemudian menjadi tegak di atas asas penyebaran pemikiran Islam dan mengembannya kepada seluruh umat manusia.

6. Pemikiran Islam telah mengubah presespsi tentang kebahagiaan pada diri umat. Sebelumnya kebahagian tercermin dalam pemenuhan terhadap syahwat dan segala bentuk kenikmatan dunia. Setelah itu, presepsi kebahagiaan, beralih mencari ridlo Allah. Akhirnya mereka tidak akan takut akan kematian, dan berharap syahid di jalan Allah. Sebab, mereka telah memahami bahwa dunia ini hanyalah jalan menuju akhirat. Ini tercermin pada firman Allah SWT:

Carilah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu akan negeri akhirat dan jangan lupakan bagianmu di dunia …… (Qs. al-Qashash [28]: 77).


Khatimah

Perubahan masyarakat Arab jahiliyah yang terbelakang dan tak diperhitungkan menjadi umat Islam yang mampu menandingi dan mengalahkan adidaya Persia dan Rumawi adalah kenyataan sejarah yang tak terbantahkan.
Rahasinya adalah dakwah Islam yang dilancarkan oleh baginda Rasulullah Saw. Allah SWT mengabadikan perjuangan beliau Saw mengubah masyarakat buta huruf itu dalam firman-Nya:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Qs. al-Jumu’ah [62]: 2).

Jika 15 abad lalu beliau Saw berhasil mengubah masyarakat dengan pemikiran Islam, maka hari pasti kita bisa melakukannya. InsyaAllah!